Potensi Panas Bumi RI 24 GW Baru Terpakai 12 Persen, PGE Dorong Kemandirian Energi Nasional
- Selasa, 18 Agustus 2026
KALIMANTAN TIMUR — Direktur Utama PGE Ahmad Yani menyebut kedaulatan energi berawal dari kemampuan mengandalkan kekuatan sendiri. Indonesia dianugerahi potensi panas bumi besar, dan tugas perusahaan mengubah anugerah itu menjadi manfaat nyata bagi masyarakat.
"Kedaulatan energi dimulai dari kemampuan kita mengandalkan kekuatan sendiri. Indonesia dianugerahi potensi panas bumi yang besar, dan tugas kita adalah mengubah anugerah tersebut menjadi manfaat yang nyata bagi masyarakat," kata Ahmad Yani dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Kapasitas Terpasang 727 MW dan Keandalan Operasi 99,71 Persen
PGE saat ini mengelola potensi panas bumi sekitar 3 GW di wilayah kerja perseroan. Kapasitas terpasang yang dioperasikan secara mandiri mencapai 727 megawatt (MW).
Baca JugaIHSG Ditutup Menguat 1,59% ke 6.401 Usai Pidato Prabowo, Rupiah Perkasa di Rp 17.820/US$
Keandalan operasi yang dibangun lebih dari empat dekade tercermin dari availability factor 99,71 persen dan capacity factor 90,42 persen. Angka ini menunjukkan panas bumi mampu memasok listrik secara stabil dan konsisten.
Ahmad Yani menegaskan panas bumi merupakan energi lokal yang beroperasi 24 jam penuh. Sumber energi ini tidak bergantung pada bahan bakar impor dan tidak terpengaruh langsung oleh perubahan cuaca.
"Panas bumi bukan hanya penting dalam transisi energi bersih, tetapi juga bagian dari perjalanan Indonesia menuju kedaulatan energi," ujarnya.
Inovasi Panas Bumi untuk Ekonomi Masyarakat Lokal
Kontribusi PGE tidak berhenti pada penyaluran listrik bersih ke rumah-rumah warga. Perusahaan mengembangkan pemanfaatan langsung panas bumi yang dirasakan masyarakat di berbagai wilayah kerja.
Di Ulubelu, Lampung, PGE mengembangkan inovasi Melon Geothermal yang menggabungkan potensi panas bumi dengan transfer pengetahuan kepada petani setempat. Model kolaborasi serupa diterapkan di Lahendong bersama Universitas Gadjah Mada melalui pengembangan pupuk booster Katrili dari silika panas bumi.
Pupuk tersebut terbukti meningkatkan hasil panen, ketahanan tanaman, sekaligus efisiensi biaya pupuk bagi petani sekitar. Pendekatan serupa berlanjut di Karaha melalui program Eco Eduwisata Kampung Kopi yang menghasilkan Pupuk COMBINE berbasis brine panas bumi dan bahan organik lokal.
Sementara di Kamojang, sejak 2018 PGE bersama petani mengembangkan Geothermal Dry House. Teknologi ini memanfaatkan uap buangan dari steam trap panas bumi sebagai sumber panas alternatif untuk mempercepat pengeringan kopi secara efisien dan ramah lingkungan.
Panas Bumi dan Jalan Menuju Kemandirian Energi
Potensi panas bumi Indonesia mencapai sekitar 24 GW, namun pemanfaatannya masih kurang dari 12 persen. Angka ini menjadi pekerjaan rumah besar di tengah dinamika geopolitik dan ketidakpastian energi global.
Bagi Ahmad Yani, kedaulatan energi bukan sekadar memenuhi kebutuhan. Lebih dari itu, memastikan Indonesia memiliki sumber energi dalam negeri yang andal dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat.
Rangkaian inovasi yang berjalan membuktikan manfaat panas bumi dapat berkontribusi positif menggerakkan roda ekonomi lokal. Dari pengeringan kopi di Kamojang hingga pupuk organik di Lahendong, energi panas bumi kini menjadi penggerak ekonomi yang menyentuh langsung kehidupan warga.
Redaksi
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Update Harga BBM Pertamina 11 April 2026 Stabil di Seluruh Wilayah Indonesia
- Sabtu, 11 April 2026
Berita Lainnya
Sinergi Strategis dengan Muhammadiyah: BSI Perkuat Ekosistem Investasi Emas Lewat Kemitraan MBC Gold
- Minggu, 20 September 2026










